Wednesday, November 30, 2011

Syukuran 1st Anniversary B.L.O.O.F cabang Makassar :)


Bismillah...
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuhuu... 

Dengan memohon rahmat dan Ridho Allah SWT, perkenankanlah saya bercerita "sedikit" tentang "kebahagiaan" dalam "RUANG" bersahaja kami... 


15 November 2011 kemarin adalah tanggal luar biasa. serius, LUAR BIASA ! selain tanggal ini adalah peringatan milad IBU saya yang ke-SETENGAH ABAD, ternyata tanggal ini juga merupakan tanggal lahirnya sebuah komunitas penuh "Persahabatan" :D 
"Blog Of Friendship"
yang biasa kami sapa dengan B.L.O.O.F 

dan tepat 15 November kemarin adalah peringatan hari jadi PERTAMA komunitas ini :) 

BERIBU rencana telah disusun dengan matang, oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab dan penuh cinta... 
BLOOFERS MAKASSAR ! (tau kan? itu lohh *artis fenomenal yang terkenal banget*, masa gak tau siih?, ah, yang gak kenal gak gaul deh...hhe*)
yah, hanya demi meramaikan dan membuat "RUANG" ini semakin bersahaja dan penuh kekeluargaan. 

kami menyusun segudang perencanaan untuk membuat KOPDAR lagiii, lagi dan lagi... (baca: karena KOPDARnya sudah beberapa kali...)
but, it's would be different from usual KOPDAR we've done. 

ini spesial, begitu spesial, semuanya harus terencana dengan matang, mulai dari konsep acara, dresscode, kue, dan semua-semuanya. 
dan jadilah tiap hari inbox FB saya dan saudara-saudara BLOOFERS MAKASSAR full of notification. 
karena selain rapatnya didunia nyata, yang di dunia maya juga tetap berjalan :) 

dan alhamdulillah, inilah hasilnya : 
cekidot ! 

23 November 2011 
Gedung Bakti , Jl. Dr.Sutomo No.26 Makassar 


Spanduk pertama yang dibuat oleh kak Arya :) dan telah di modifikasi SEDEMIKIAN RUPA sehingga menjadi semakin menarik dan membuat yang melihatnya semakin jatuh cinta... (buat melihat kak ARYA nya yah?! nah loh !) 



dan Inilah Foto KUE CANTIK hasil perjuangan kami (baca: saya selaku PJ KUE dan kak Latifah selaku PARTNER mencari alamat dan REKAN SEPERJUANGAN menempuh perjalanan ke BAKTI dalam guyuran derasnya hujan...*tingting)


sedikit informasi, konsep acara syukuran anniversary B.L.O.O.F yang kami selenggarakan sedikit unik dengan balutan acara sebagai berikut : 
1. Pembukaan oleh MC (kakanda Egha)
2. pembacaan UUD, #eh...bukan, Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an oleh kakanda Arya 
3. ISHOMA alias Istirahat , sholat magrib dan MAKAN :) 
4. Perkenalan Bloofers Makassar beserta Blog nya Masing-masing (PIC : adinda Uchank)



*maaf yah, orang-orang di atas adalah yang beruntung mendapatkan hasil jepretan HP ku, yang lain nanti nyusul klo dah ada foto baru :D 

5. Pemutaran Slide yang isinya kumpulan foto-foto Seluruh anggota Bloofers Makassar dan semua kegiatan yang pernah terlaksana, baik itu kopdar, hiking, rapat kepanitiaan, buka puasa bersama dan halal bi halal dengan pasukan bintang, NGEPE' di pantai, pas lagi siaran di Celebes Radio, temu komunitas se Makassar dan banyaak lagi...cape' yah sebutin satu satu saking banyaknya..hhe. (PIC : kakanda Lathifah)


*yang ini juga perwakilan aja yah :) klo mau video lengkap silakan minta sama teman2...

6. Renungan oleh kakanda Atun dan Pemotongan Kue Cantik  beserta orang-orangnya, (eh, bukan orang betulan yah, tapi yang di kue yang dipandu langsung oleh kakanda Yuni)


7. Tukar-tukaran kado antar BLOOFERS Makassar :D 


Ini nihhh Foto-foto KEBAHAGIAAN kamiii dalam balutan busana HITAM HIJAU :)
(random: emi, uchank, kak andro, kak arman, p-man, kak arya, om "lupanamanya", kak lathifah, kak yuni, kak atun, kak egha, kak uty, kak pipi, saya, adek ai, adek amel, adek ikha, adek namy, dan kak iswahyuni)









seru jiii seruuu jiii ? SERU DONK ! heheheh :P 
semoga ini bisa jadi cambukan motivasi buat teman-teman BLOOF di luar sana buat ngadain KOPDAR juga. 

"Kami bahagia dalam "RUANG" ini, dan kebahagiaan kami akan berasa lebih jika teman-teman yang lain juga ikut berbahagiaa..."

wassalam

-yang tercinta-
BLOOFERS MAKASSAR


*masihbutuhfoto+editing:)

Sunday, November 6, 2011

Kisah Kesabaran Nabi Ismail (Sejarah Hari Idul Adha)




Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.

“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".

Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”

Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah(artinya, berpikir/merenung).

Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.

Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.

Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.

Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.

“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.

“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.

Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.

“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.

“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.

“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.

“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.

“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.

Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”

“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.

“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.

Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.

Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”

“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.

Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”

Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.

Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”

Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.

Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)

Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Sumber: Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika, Jakarta
dengan beberapa perubahan

Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H 
Semoga Kisah diatas menginspirasi kita untuk tetap bersabar di jalan ALLAH dan berbagi kebahagiaan dengan yang membutuhkan :D 


Mohon Maaf Lahir dan Batin 
Nur Awaliah Yusran & Keluarga

Sunday, October 30, 2011

-spygirls-

Terima kasih yah sodariisodarii ku sayangs  :D 
Semoga silaturahim kita stay cool untuk slamanya...hingga ujung usia kita :)








Love,
-n.a.y-

Friday, October 28, 2011

Tanganmu, Ibu...




Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan
(Emha Ainun Najib)

Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya 
kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang. 

Ba!da Ashar,
"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. 

"Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya 

"Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga. 

"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah" 
pinta Ibu. 

"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.

Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. 

"Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. 

"Bu, siapa itu'?" tanya saya. 

"Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang" pendeknya. 

Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.

Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur!an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal? 

"Dingin" bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. 

Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga. Adzan isya berkumandang,

Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.

Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar.

 "Duh Allah, sayangi Mamah" spontan saya memohon. 

"Neng'" suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan 
saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan 
menciumnya.

"Tangan ibu kenapa?" tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss 
sekali.

"Penyakit orang tua"

"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga" tambahnya.

Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.

Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya,  suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan'. 

Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? 
Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar 
diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? 
Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? 
Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya..?
Pernahkah..?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya 
"Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "

Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, 
Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan. 

Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening. 

***

mahabbah12@yahoo.com

Sunday, October 16, 2011

Karena Aku Mencintaimu Lebih Dalam Dari Mentari Yang Mencintai Titah Tuhannya

Aku menari dalam lamunanku, ku tatap seisi ruangan dan kutemani sang hati menghitung detik demi detik langkahku di bumi Allah.

Kuurungkan niatku untuk tidur, aku lebih memilih menikmati indahnya bulan dan bintang malam ini. sambil mendengarkan suara merdu lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh Mishary, aku begitu terhanyut. Kuselesaikan bacaanku “Dalam dekapan ukhuwah” karya Salim A Fillah dan melanjutkan muhasabahku di tengah sejuknya malam.

Tak berapa lama kemudian, aku mencoba berdiri, mengambil notebook jingga ku, kubuka perlahan dan kutemukan sebuah file berupa surat cinta untuk sang terkasih. Isinya sederhana, hanya beberapa bait lagu Ebiet G Ade

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meskipun nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangatmu tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Setelah membaca surat cinta ini, aku tertegun dan kembali kuingat seorang gadis muda yang pernah kukenal setahun yang, sebut saja namanya “Gladis” ia adalah seorang pekerja seks komersial di kotaku. Ia tinggal berdua dengan ayahnya sebut saja Pak Jamal, seorang buruh tani yang tak lagi bisa menggunakan kedua bola matanya untuk melihat. Ibu Gladis sudah sejak lama meninggalkan mereka, hanya karena malu menerima nasib menjadi istri seorang buruh tani miskin yang buta. Kala itu Gladis masih kecil. Ia tak tahu apa-apa, ibunya pergi meninggalkannya tanpa menyisakan sedikitpun harta untuk mereka berdua, bahkan rumah berukuran 8 x 6 m yang selama ini mereka tinggali pun direbut olehnya dan dikontrakkan. Ayah Gladis hanya bisa pasrah menerima semua ini. ia hanyalah orang miskin yang pernah beruntung bisa menikahi ibu Gladis yang dulu adalah kembang desa. Namun, satu kesyukuran Pak Jamal, bahwa istrinya tidak mengambil Gladis dari sisinya. Ia begitu menyayangi Gladis, hingga nyawa pun relaia tukarkan demi keselamatan anaknya.

Setelah berpisah dari istrinya Pak Jamal kemudian membawa Gladis hidup serba kekurangan bersamanya, kadang dalam sehari mereka tak makan sesuap nasi pun. dan untungnya Gladis mengerti sedikit demi sedikit perjalanan kehidupannya bersama sang ayah. Sang ayah yang hanya buruh tani buta, tak ingin melihat anaknya menderita dan tak sekolah seperti dirinya. Gladis, layaknya anak-anak pada umumnya tumbuh begitu cantik, dengan pendapatan pas-pasan pak Jamal berusaha menyekolahkan Gladis mulai dari SD hingga meraih gelar sarjana. Itu janjinya pada Gladis. Dan ia menepatinya. Gladis kemudian bersekolah SD hingga SMA,dan pada saat memasuki bangku kuliah, disitulah perjalan kehidupan Gladis yang sesungguhnya dimulai.

“Gladis sangat sayang pada Bapak, Gladis tak lagi mau menjadi beban Bapak. Sudah cukup Bapak selama ini membantu Gladis untuk sekolah, dan sekarang tibalah saatnya Gladis membuat Bapak senang”

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Gladis sesaat setelah merenung sendirian di rumah kecilnya.
Yang ia fikirkan adalah bagaimana caranya agar Bapaknya tak lagi menjadi buruh tani. Dan sisa hidupnya ia gunakan untuk beribadah dan beristirahat di rumahnya. Gladis juga berjanji secepatnya akan mengumpulkan uang untuk operasi mata ayahnya dan membangun rumah sederhana untuk mereka berdua.

Aku kembali merenungkan kisah Gladis. Ia gadis yang baik hati namun...

Berbagai perusahaan kecil ia datangi untuk memasukkan lamaran kerjanya, berbekal ijazah SMA, agaknya ia sangat kesulitan untuk mendapatkan perkerjaan yang ia mau, kalaupun dapat gajinya tak seberapa. Sedangkan cita-citanya untuk ayahnya sungguh tinggi. Dan pada akhirnya jalan terkahir yang ia tempuh untuk mendapatkan uang yang banyak dalam waktu yang singkat adalah menjadi pekerja SEKS. Yah... pekerja SEKS untuk sementara katanya, ia hanya ingin ini berlangsung sebelum operasi mata ayahnya berlangsung, karena ia tak ingin ayahnya melihat betapa kotornya perbuatan yang ia lakukan dan uang haram yang ia peroleh.

Yah, dan Gladis berhasil, ia berhasil memperoleh uang yang banyak dari hasil kelakuan bejatnya tiap malam.

Gladis merahasiakan semua ini pada ayahnya, ia mengaku bahwa ia melanjutkan kuliahnya sambil kerja sambilan di restoran mewah, sehingga setiap pagi-sore hari ia di kampus dan malamnya ia gunakan untuk bekerja. Sungguh tragis kebohongan yang dilakukan Gladis. Ini semua demi ayahnya.

Pak Jamal begitu senang dengan segala usaha anaknya, ia selalu bangga dengan putri semata wayangnya itu. Ia tak pernah menyangka jikalau suatu hari ia bisa tinggal di rumah untuk beberapa waktu bersama putri semata wayangnya, menonton sambil bersenda gurau, bernostalgia akan masa lalu kelamnya bersama ibu yang tak lagi ia anggap sebagai ibunya dan mengingat kenangan-kenangan indahnya ketika melalui kerasnya perjuangan hidup yang mereka alami.

Dan kabar gembira bahwa sebentar lagi ayah Gladis akan operasi mata. Tentunya ini adalah kabar yang sedikit mengiris hati sang putri Gladis. Setelah ini ia berencana akan membawa ayahnya pindah keluar kota. Agar tak ada yang bisa memberitahukan kepada ayahnya apa yang selama ini Gladis lakukan diluar sana.

“Ayah, aku melakukan ini semua, Karena Aku Mencintaimu Lebih Dalam Dari Mentari Yang Mencintai Titah Tuhannya”

Gladis tahu ini salah, dan ini adalah perbuatan yang paling kejam yang sudah kulakukan padamu. Kulakukan ini demi menjaga hati dan perasaanmu. Engkau yang begitu ikhlas dan tanpa pamrih mengucurkan keringatmu sekian tahun demi menafkahiku, anak semata wayangmu tak pernah lelah melangkah demi menggapai mata air cinta ku. Maafkan Gladis ayah. Ini akan menjadi rahasia Gladis seumur hidup. Biarlah Tuhan yang membalas, aku hanya ingin melihat senyum dan kebahagiaanmu.

--------------------------------------------------------------------------------------

Aku kembali tertegun, dan perlahan kuhapus airmata yang mengalir di pipiku. Sungguh, cerita Gladis membuat malamku begitu sempurna. Aku sadar bahwa diluar sana masih ada sosok anak yang begitu mencintai dan sangat ingin membahagiakan ayahnya, walaupun cara yang ditempuhnya salah.
Semenit kemudian, kututup laptopku kembali dan ku rebahkan tubuhku di kasur. Dan yang kulihat adalah bayangan ayah, ayah yang telah meninggalkanku 6 tahun silam. Belum sempat kubahagiakan ia, seperti Gladis membahagiakan ayahnya.

Rabb,
Lapangkanlah kuburnya.
Terangilah ia dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.
Datangkanlah sosok tampan di hadapannya, sebagai wujud amal kebaikan beliau
selama ini.
Kutitipkan ia pada-Mu Ya Allah ...
Rabb,
Rahmatilah hamba sebagai anak shalehah, agar mampu mendoakan kedua orang tua hamba.
Sampaikan kepadanya, larik yang belum sempat kuverbalkan di hadapannya, bahwa
Aku mencintainya,
Mencintainya lebih dalam dari mentari yang mencintai titah Tuhannya...

-Blog Of Friendship-

Photobucket

Followers