Wednesday, February 26, 2014

Setahun Perjalanan Cinta..



“Berteman dengan cinta, rasanya lautpun tetiba menjadi manis, meliuk dinamis dan berbuah surga yang tak pernah habis”


(24 februari 2013)

Perjalanan rasa pun dimulai, entah dari mana asalnya, Allah kirimkan selangit doa yang berhasil mengguncang langit, kebahagiaan yang tiada terurai dan airmata penuh haru, mentari sahaja menyambut dengan tawa mesra menggelidik, padahal kemarin pagi, hujan menyambut hangat dengan deras nya, begitulah kuasa Allah menyambut ahsan prasangka hambaNya. Yang sedang dimabuk hawa cinta.

Pagi itu manis sekali…
Kau ucap janji suci dihadapan ratusan orang, malaikat dan penduduk langit menjadi saksi bisu. Dan aku disampingmu, sesekali melirik dan tersenyum manis sambil berucap lirih, assalamu ‘alaykum, suamiku.. :’)

“Bagi mereka yang mengupayakan cinta, hanya ada ilkim hangat dan iklim sejuk, meski ada goda aurora dan pelangi katulistiwa”
“Bagi mereka yang mengupayakan cinta, setiap musim membagi cindera mata, Kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, serasa hangat juga payung dan layang-layang”
“Bagi mereka yang mengupayakan cinta ditiap cuaca, cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat, hujan menanyi rezeki, badai mengeratkan peluk dan tiba-tiba, surge mengetuk pintu rumah.”
-ust. Salim A Fllah

Hari itu hanya bahagia yang menyeruak, pertarungan hati dikala cinta dinanti akhirnya terjawab sudah, kini aku disisimu, berbagi bahagia, berbagi suka, meyelami duka  dan kelak menggapai surgaNya bersama. 



(24 februari 2014)

Sepertiga malam menyambut kami, aku yang baru saja terbagun karena bunyi alarm yang begitu bersahabat perlahan membuka mata. Hanya ada gelap sepanjang penglihatan. Perlahan kugerakkan tubuhku kesisi kanan agar tak mengganggu janinku, dan mencoba bangun dari peraduan. Mencari saklar lampu yang letaknya tepat sisi atas tempat tidur ku. Kutekan perlahan, dan pada saat yang sama terang benderanglah seisi kamar. Kutatap lekat seisi ruangan dan kudapati wajah teduh itu di sampingku. Aku, tersenyum ‘pang-ling’ menatapnya, masih dengan senyum manis dalam tidurnya, kudekati wajah teduhnya, dan kudekatkan bibirku kejidatnya sambil membangunkannya. 

Selamat satu tahun sayang…”

Begitulah Allah menyatukan dua hati, bersama prasangka, aku  terus membatin, se-indah inikah kehidupan berumah tangga? Yang ada hanya cinta cinta dan CINTA.

Dan Seorang suami telah dikirimnya melalui untaian doa-doa yang mengalir disepanjang malam. Dan malam itu, kami bermesra padaNya, mengucap syukur yang tiada habisnya, sesekali airmata tak sanggup terbendung. 

Malam itu sebenarnya tak ada bedanya dengan malam –malam sebelumnya, ia selalu begitu. Selalu hangat dengan cinta. Tak pernah lupa disetiap salam 2 rakaat, berbalik ke arahku yang tepat disisi kanan belakangnya, merangkul dan meraih pipiku, dan menciuminya sambil berkata “Terima Kasih, sayang…”

Tak pernah bosan membagi cinta, sepertiga malam yang syahdu kami habiskan dalam pelukan Rabb kami. Terima kasih atas pernikahan ini…

Sehangat pagi setahun kemarin, kami berbagi cerita, sambil bernostalgia, perasaan masing-masing menyambut akad berkumandang. Doa tak henti, shalawat tak berujung bergantian menghias langit-langit mulut kami. Sambil tertwa sesekali, saling menimpali, mesra sekali… (ada yang cemburu? :p)
Entah berapa lama kami habiskan waktu bersama pagi itu, berdua saja bersama kicauan burung-burung yang sedari tadi berputar-putar mengitari pandangan kami.

Dan adalah kado terindah yang ia berikan pagi itu, kado kesekian, kado untukku dan untuk malaikat keciku diperut yang akan disambut hangat penuh cinta kehadirannya, cicilan muroja’ah hafalan 5 juz, diteras rumah. Lucunya, beberapa kali kami mencoba sambil merekamnya, tak pernah berhasil tersave dengan matang. Wallahu A’lam. Biar Allah dan para malaikatnya saja yang menjadi saksi :’)

Demikian aku mencintaimu dengan caraku, dan kamu mencintaiku dengan caramu, bersama barakah, cinta  akan menguatkan jalinan kita… 

Setahun sudah aku dan suami ku menjalani hidup penuh cinta, kata seorang padaku beberapa tahun silam, setahun pernikahan adalah masa ta’aruf kita dengan pasangan. Tak cukup bagiku hanya setahun, mengenal suamiku bukanlah perkara melewati masa, namun membersamai masa. Waktu hanyalah titian semata, ia terus bergerak hingga nanti ajal menjejang, dan surga menanti kami.

Setahun sudah aku duduk dan berdiri di sampingnya, merasakan bau surga yang ia tancapkan dipundaknya, mancari keberkahan rezeki bersama ikhtiarnya dan doa-doaku yang mendampingi, ia ajarkan banyak hal tentang kehidupan. Ya, aku kini perlahan berubah, berubah mengikuti  ritme hidup yang semakin berkah. Berkah karenaNYA dan karenanya.  

Setahun sudah masa pacaran kami, semakin sakinah mawaddah warohmah, jatuh bangun masalah semakin menguatkan jalinan, tak ada masalah bagiku (menurutku) begitupun menurutnya. Ia yang selalu mengajarkan untuk berucap lebih hati-hati, bertindak mawas diri sebagaimana Allah mengawasi. Ia mengajarkan berbagi tanpa kenal, siapa? Dimana? Kapan? Dan berapa banyak. Jujur, aku belum pernah menemui lelaki seperti dirinya sebelumnya, lelaki selangit dengan keistimewaan surga, yang Allah titipkan bertitel IMAM, bernama SYAFAAT.

Setahun sudah ia mengenalkanku pada dinamika hidup, tertawa, tersenyum, terharu bahkan tak sedikit airmata yang tertumpah. Tidak, tidak sama sekali karena bersedih, melainkan karena kebagiaan yang di pancarkannya disetiap waktu. Ia  ajarkan bagiamana hidup dengan segumpal rindu tak terbendung yang terikat doa disetiap celah langit yang menghias.

Setahun sudah doa-doa ku senantiasa melangit untuknya, tak kenal lelah ia pun tak henti mengajarkan keagungan rasa kepada siapa saja, tak ada benci tak ada iri tak ada maki tak ada caci, semua mengalir lembut. Yang ia tinggalkan hanyalah kebaikan tanpa batas, kedermawanan seluas samudra, dan cinta yang tak kenal lelah.

Setahun sudah bersama kami arungi bahtera kehidupan penuh arti, saling mengisi, saling melengkapi, saling memberi dan saling bertukar bahagia. Tak terhitung syukur, tak terbendung rindu, tak terbatas sayang melengkapi jejak langkah kami.

Dan setahun sudah, kukenang akad nikah bersamanya, saat cinta membenih dalam gemuruh debar hati dan bertumbuh untuk pertama kali.

“Tak habis cinta yang datang, semakin membuka mata, bahwa inilah cinta yang sesungguhnya yang Allah kabarkan kepada kita”

Masih di 24 februari 2014, kau katakan, hari ini hanya untukku, dan aku percaya sambil tersenyum melihat keromantisanmu. Dan hari itu bertepatan pula dengan milad adik cantik kita, ifa dan 33 minggu usia buah cinta kita didalam rahimku, bersama memanjatkan doa terindah, semoga Allah memberkahi. 

Tak lantas usai, kau ajak aku menginjakkan seribu langkah menikmati hari penuh cinta bersama, berdua. Seperti biasa kita menghabiskan banyak waktu di toko buku, melahap durian manis bersama segerombolan anak kecil yang ngidam durian, menemanimu rileksasi, menyantap mie naga super pedas yang kau inginkan sejak kemaren, bercerita lepas dan saling berfoto layaknya sepasang kekasih yang kembali dan kembali dimabuk asmara, dan hari itu kita tutup dengan  bersama menyambut bahagia kepulangaan jamaah umroh dibandara, dan kemudian menepi ke pinggir air terjun sambil saling mengucap kata cinta dan janji mesra ditemani secangkir ice milo yang baru saja kutukar dengan gope-an. Malam yang indah.

Kau tahu? Bahkan hari-hari sebelumnya juga tak kalah indahnya?
Tak kan habis tinta ini mengurainya satu persatu.
Lihatlah kami sejenak saja, dan rasakan kebahagiaan yang mengalir deras disetiap detak jantung.  Karena cinta kami, maka Allah ridho-i.

“Dan kini, lengkap sudah kebahagiaan kita, sayang… Allah titipkan hadiah terindah kado pernikahan pertama kita, malaikat kecil yang sebentar lagi akan hadir di dunia ini, jundi/ah yang kita rindukan, dan bersamamu, aku berakar, tumbuh dan mekar…”

Akhir Sejarah Cinta Kita

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita tidur saling memunggungi
Tapi jiwa berpeluk peluk
Senyum mendekap senyum

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Raga tak lagi saling membutuhkan
Hanya jiwa kita yang sudah lekat meyatu
Rindu mengelus rindu

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
Mengenang dan hanya itu
Yang kita punya

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir
Di saat tak ada akhir

-M. Anis Matta, Lc-

“Selamat satu tahun sayang…”


Barakallaahuu Laka, wa Baaraka ‘Alaika wa Jama’a Bainakumaa fii Khaiir…
Aku mencintaimu, Lillah, Fillah, Billah, Ma’Allah…
-nay syafaat-
24 februari 2014




Friday, October 4, 2013

Yang Mungkin Terlupakan, "Terima Kasih" :')

  • "Pa, tolong diambilin yah cuciannya.."
    "Ok.. Ini Ma..(Sambil menyodorkan cucian kepada sang istri)"
     "..." (kemudian berlalu)
    (Percakapan dalam sebuah sinetron yang tidak sengaja saya tonton beberapa hari yang lalu (ʃ⌣ƪ))


    Sekilas, di atas adalah salah satu percakapan pasangan suami istri yang mungkin sudah sangat lumrah di telinga kita. Namun, ada satu yang kurang. Hmm, dan mari kita membahasnya.

    Sebagai seorang istri maupun suami, Pernah ga sih kita membayangkan sebuah kebahagiaan besar atas tindakan 'sederhana' yg dilakukan pasangan kita kepada kita? Untuk sekedar mengucap 'Terima-Kasih' mungkin?

    Seperti yang terjadi dalam percakapan pasangan suami istri di bagian pembuka tulisan ini.
    Sang istri mungkin lupa untuk sekedar berucap 'Makasih yah Pa..' (atas penghargaan sederhana yg telah dilakukan seorang suami dalam membantu istrinya mengambilkan cucian), padahal sekedar ucapan 'Terima Kasih' itu akan sangat berefek luar biasa kepada sang suami :')
    Ahh..pertanyaannya, Benar-benar lupa kah sang istri? (¬˛¬͡) (˙▿˙?)



    Sebagai suami, tidak sedikit yang merasa jaim untuk mengungkapkan 'Terima Kasih' pada istrinya. Namun, tidak sedikit juga para istri yang 'malu-malu kucing' mengungkapkannya lebih dulu. Hal ini karena beberapa pasangan tidak biasa menggunakannya. penyebabnya mungkin karena sudah terlalu biasa hidup bersama sehingga lupa untuk sekedar memberikan penghargaan kecil walau hanya ungkapan 'Terima Kasih'.

    Kita menjadi terlalu nyaman dengan penerimaan dan pengertian pasangan kita, hingga kita lupa kalau dia pun adalah seorang manusia biasa yang butuh dimanusiakan.

    Pasangan kita bukanlah sebuah barang berharga yang cuma bisa dipajang, dipamerkan, digunakan, dimanfaatkan lalu disimpan. Pasangan seharusnya disayang, dipuja, diajak bicara dari hati ke hati, tempat kita belajar banyak hal, teman beribadah dan partner sejati mencapai tujuan hidup kita yg sesungguhnya. Sehingga pantaslah jika kita menganugerahinya ungkapan 'Terima Kasih' . Mengapa di anugrahi? Karena ungkapan 'Terima Kasih' membuat orang yang dituju akan merasa dihargai, dihormati dan tentunya lega bahkan bahagia ketika mendengarkannya (˘⌣˘ÊƒÆª)

    Lalu, efeknya ke diri kita? Tentunya kita akan mulai terbiasa untuk mengungkapkan perasaan syukur kita atas sekecil apapun bentuk kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita khususnya pasangan kita. Dan secara tidak langsung, ini akan menambah kuantitas kebahagiaan hidup rumah tangga kita karena perasaan syukur dan penerimaan yang tulus ikhlas atas sekecil apapun pemberian Allah kepada kita melalui perantara pasangan kita.

    Alhamdulillah, Aku adalah salah seorang yang paling beruntung karena memiliki pasangan yang tak bosan-bosannya menganugrahiku ucapan terima kasih disetiap kesempatan. (É” ˘⌣˘)˘⌣˘ c)
    Contoh kecil, ketika kami makan bersama, sebelum atau pun setelah menyantap hidangan yang telah aku siapkan, suamiku selalu berbalik ke arahku, menatap dengan senyumnya yang sangat manis lalu membelai kepalaku dan mengatakan, "Terima kasih sayang, masakannya enaaak sekali". ( ื▿ ืʃƪ).
    *padahal dibeberapa kesempatan terkadang aku masaknya keasinan. ('-.-)

    Atau disaat yang lain ketika suamiku akan bepergian keluar kota, dan aku menyiapkan seluruh keperluan yang akan dibawahnya. Ia tak pernah absen untuk sekedar duduk sebentar berdua denganku dan mengucapkan rasa terima kasihnya yang luar biasa kepadaku. (˘⌣˘Êƒ♡ƪ) *hmm, walaupun terkadang aku lupa memasukkan beberapa barang yang mesti ia bawah. Hehe../(´̯ ̮`̯ )\

    Ups (•̯͡.|‾‾‾| maaf yah sayang (˘⌣˘)ε˘`)

    Dan itulah kekasih selangitku, ia tak kan pernah lupa mengucap terima kasih atas apa yang sudah aku lakukan untuknya, walaupun itu adalah hal yang sangat kecil dan sederhana yang memang sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang istri atau bahkan hal lain yang terkadang orang lupa mengapa ia harus mengucapkan terima kasih kepada pasangannya. Simple! Tapi inilah yang membuatku bahagia setiap saat. Istri mana yang tak 'kelelep' jika suaminya bisa menghargai setiap jerih payah istrinya? Sungguh, selelah atau seribet apapun kita dengan pekerjaan dan aktifitas kita, semuanya akan musnah ditelan kebahagiaan yang tak terkira :')

    Dan dari sinilah juga, aku sebagai seorang istri banyak belajar dari seorang suami yang luar biasa akan betapa besar dan pentingnya makna ungkapan terima kasih. Sehingga, hal ini membuatku lebih terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya tidak hanya kepada suamiku saja, tetapi juga kepada siapa saja yang telah berjasa buatku.

    Sejak dahulu, Rasulullah pun telah mengajarkan kita untuk selalu berterimakasih kepada sesama yang telah membantu kita karena pada hakikatnya mengucapkan terimakasih atas kebaikan yang telah diberikan orang lain kepada kita adalah sama dengan mengucapkan syukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita.

    Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadis yang berbunyi

    Ù…َÙ†ْ لاَ ÙŠَØ´ْÙƒُرُ النَّاسَ لاَ ÙŠَØ´ْÙƒُرُ اللَّÙ‡َ

    "Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah" (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)

    Dan Bukankah Allah juga sudah berjanji akan menambah nikmat bagi siapa saja yang berterimakasih (bersyukur) atas nikmatnya? "Dan ingatlah ketika Rabb-Mu memberitahukan, jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kalian.." (QS. Ibrahim : 7)

    Ibnu Abu Dunya meriwayatkan, kepada seorang lelaki dari Hamadzan, Ali bin Abu Thalib berkata "Sesungguhnya nikmat itu berhubungan dengan syukur, sedangkan syukur itu berkaitan dengan maziid (penambahan nikmat). Keduanya tidak bisa dipisahkan, maka maziid dari Allah tidak akan terputus sampai terputusnya syukur dari hamba"

    Lalu masih adakah diantara kita yang enggan berucap 'terima kasih' kepada pasangan kita?

    With Love,
    NaySyafaat (⌣.̮⌣✽)

Sunday, May 12, 2013

Dalam diamnya, Ayah...



 

DIAM


Inilah 'kata' yang paling tepat untuk disematkan pada sosok manusia super bernama 'ayah'. Diam adalah karakter yang paling sering dilekatkan padanya. Mungkin karena fitrahnya yang terlahir sebagai seorang lelaki. Walaupun, tidak semua lelaki terlahir dalam perisai karakter ‘pendiam’.

Dalam asumsi dan pandangan sebagian besar anak (termasuk saya), seorang ayah kita akan lebih banyak diam dan tidak berbicara, dibandingkan dengan ibu. Mungkin yang nampak adalah ketika pada masa kanak-kanak, ia yang begitu mencintai dengan perilakunya yang ‘tampak’ dihadapan kita membuat ia terlihat sebagai sosok super hero atau kebanggaan kita di hadapan teman-teman. Namun, semakin berjalan waktu, sosok ayah seakan berubah, lambat laun komunikasi dan interaksi dengan ayah terasa semakin berkurang, terlebih ketika kita beranjak remaja dan menuju kedewasaan. Ayah akan lebih banyak terlihat diam, sebab diantara para 'ayah' ada yang sulit mengekspresiakan pesan cinta dan kasih sayang pada anak-anaknya. Namun, tanpa kita sadari..

Dibalik diamnya ada Cinta…

Diam tidak berarti tidak memiliki cinta, bukan?
Di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pernah bercerita bahwa selama hidupnya ia belum pernah sekalipun mencium anaknya. Dan itu tak selalu bermakna ia diam tanpa cinta.
Tak seperti ibu yang selalu mengekspresikan cintanya dengan ciuman, pelukan hangat dan kasih sayang yang nyata.

Dibalik diamnya ayah akan slalu ada cinta, yang menyimpan banyak sekali makna. Dan tugas kita sebagai anak adalah mencari makna-makna tersebut. Agar kita bisa menemukan bahwa dibalik diamnya itu bahkan ada cinta yang benar-benar tulus dan sangat dalam.

Dibalik diamnya ada kebanggaan dan teladan…

Ayah punya caranya sendiri dalam mengapresiasi kita, dulu, ketika ayah mengajarkan kita mengendarai sepeda/motor, dan ketika ia menganggap bahwa kita telah mampu menggunakannya, ia akan melepaskan kita dan membiarkan kita melakukannya sendiri. Sementara disisi lain mungkin ibu akan berkata sebaliknya, karena begitu takut melihat anaknya terjatuh. Lalu? Apakah itu berarti ayah kita tega melihat anaknya terluka? NO ! kondisi sebenarnya ayah yakin semua kan baik-baik saja. Ayah membiarkannya, karena yakin kita bisa, dan ayah BANGGA ! Memang, ungkapan ayah mewakili apa yang diyakininya…
Sebahagian dari kita anaknya, mungkin tak pernah sadar bahwa betapa bangganya beliau dengan keberadaan kita disisinya, melihat anak-anaknya tumbuh menjadi lebih dewasa, melihat kita berhasil, bekerja, menikah dan memiliki anak. Betapa ia tak berhenti bersyukur dengan semua itu. Hanya saja ‘MUNGKIN’ kita tak pernah tau, karena ia mengungkapkan kebanggaannya dengan DIAM :’)

“Ayah terus berbuat meski tanpa banyak bicara. Hanya untuk kita. Will Roger mengatakan, “Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan, yaitu teladan sebagai seorang pra dan seorang ayah sejati” –Majalah Tarbawi hal.50 (edisi khusus Ayah Punya Cara Sendiri dalam mencintai Kita)

Dibalik diamnya ada kesungguhan dan tanggung jawab…

Setiap pagi, sadarkah kita begitu ayam berkokok, subuh menjelang, betapa ia dengan semangatnya bangkit dari pembaringan untuk bersiap menghadapi hari beratnya? Nahkoda ‘keluarga’ yang memegang amanah ‘pencari nafkah’ siap untuk bertempur mengarungi samudra kehidupan sepanjang hari demi member makan istri dan anak-anaknya di rumah. Bekerja keras, membanting tulang, berkejaran dengan waktu. Seperti apa ayah kita? Seorang PNS kah? Seorang pengusaha? Seorang dokter? Insinyur? Petani atau buruh pabrik? Apapun ia, apapun profesinya, semua bentuk pekerjaan yang ia lakoni sesungguhnya ia kerjakan dengan sepenuh hati, demi apa? Demi cinta nya pada keluarga, demi cintanya pada kita, anak-anaknya…

Betapa bahagianya kemudian beliau ketika keringat yang bercucuran ataupun otak yang terasah sepanjang hari berbuah manis senyuman anak-anaknya yang menanti kepulangannya di depan pintu rumah, rasa lelah, seketika hilang, pelukan hangat dan tak jarang airmata yang tertumpah mengisahkan betapa ia tak sanggup menguntai bahagia dalam kata. Cintanya, menggelorakan semangat dan tanggung jawab yang tersembunyi dalam diamnya…

Dibalik diamnya ada kegalauan dan kerisauan…

“Anakku mulai menjauh dariku, dan takkan pernah kurengkuh kembali seperti ketika ia mash kanak-kanak” -ayah

Tanpa sepengetahuan kita, ayah menyimpan segumpal kegalauan dan kerisauan ketika perlahan anak-anakanya tumbuh menjadi semakin dewasa, ketika kita sudah mulai disibukkan dengan segudang pekerjaan diluar sana, ada semakin sedikit waktu yang bisa dihabiskan untuk sekedar duduk berbincang berbagi kebahagiaan bersama ayah.

“Sejak suara tangismu yang pertama, sejak kulantunkan adzan ditelingamu, aku begitu menyayangimu, yah..kaulah permata hatiku, namun kau bukanlah selamanya milikku, rumah ini hanya tempat persinggahan dalam perjalananmu menuju kedewasaan. Dan kini, sudah hamper masanya kau pamit, walau dihatiku terpancar sedikit rasa pahit, tapi siapalah aku yang bisa menahan perjalanan waktu? Siapalah aku yang mampu menahan realita kedewasaan? Maafkan aku, wahai anakku, bukan aku tak rela kau pergi, tetapi karena aku terlalu mencintaimu! Hatiku bertanya adakah orng lain yang bisa mencintaimu dan menjagamu sepenuh hati, sejak kau jalan tertatih, aku melihatmu jatuh bangun tanpa rasa letih. Kubalut luka mu dengan hati-hati agar kau tak menjerit. Tapi jika suatu hari hatimu terluka, siapakah yang akan membalut luka itu dalam perjalanan hidupmu?”

Dan begitu ayah bagi kita yang telah menikah, ia laksana makhluk paling bijak yang senantiasa tersenyum menyambut kebahagiaan kita walau di dalam hatinya terasa perih bahkan mungkin ia akan sengaja menghindar untuk sekedar menyeka airmatanya yang berjatuhan. Ayah, disaat yang menyenangkan bagi kita, baginya adalah bagai menanti detik-detik akhir kebersamaan. Dan ia, lagi lagi hanya terdiam. :’)

Dibalik diamnya ada kekesalan..

Terkadang sosok ayah yang baik hati bisa ‘kesal’ juga sewaktu waktu. Bukan ia kesal karena kelalukan ‘nakal’ anak-anaknya, sebenarnya ia kesal pada dirinya sendiri, karena tidak berhasil mendidik kita, anak-anaknya yang begitu ia cintai.

Dr. Arun Gandhi cucu dari Mahatma Gandi dan pendiri lembaga M.K.Ghandi, membagi kisahnya..

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun, dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah-tengah kebun tebu 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal di pedalaman dan tak punya tetangga. Tak heran, jika kami sangat senang jika di ajak ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.
Suatu hari aya meminta saya mengantarkannya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu, bahwa ayah saya mau ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang diperlukan. Selain itu ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil dibengkel.
Pagi itu, setiba di tempat konferensi ayah berkata : “Ayah tunggu kamu, disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama”. Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberi ayah kemudian saya pergi ke bioskop. Wah saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa waktu. Begitu melihat jam pukul setengah 6 sore, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang sedang menunggu. Saat itu sudah hamper pukul 6. Dengan gelisah ayah menanyai saya “Kenapa kau terlambat?” saya sangat malu mengakui bahwa saya menonton film John Wayne. Akhirnya saya katakan “Tadi mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu” Padahal, ternyata ayah telah menelpon bengkel mobil itu, dan kini ayah tahu bahwa saya berbohong.
Kenudian ayah berkata “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kamu, sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan pada ayah ini, ayah akan pulan ke rumah dengan berjalan kai sepanjang 18 mil an memikirkannya dengan baik-baik.”
Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah. Maka selama lima stengah jamsaya mengendarai mobil pelan-pelan dibelakangnya. Melihat penderitaan yang dialami ayahhanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan, sejak saat itu saya bertekad untuk tidak lagi pernah berbohong”
Sering kali saya berfikir mengenai peristiwa inidan merasa heran, seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai kesalahan tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi hanya dengan satu tindakan nyata tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejdian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.

Dibalik diamnya ada marah..

Bukan karena tidk sanggup berkata atau memukul, terkadang seorang ayah akan lebih banyak diam ketika marah dan menyerahkan uruan marah-memarahi kepada ibu. Kenapa? Ia memilih diam, karena cintanya pada kita.

Imam Hasan Al Banna  juga kadang mengekspresikan marahnya dengan diam, Tsana anak pertama beliau pernah menceritakan hukuman yang diberikan ayahnya karena bermain tanpa sandal, saat aku duduk dan melihat ayah dari kejauhan aku segera bangun dan menghampirinya tanpa sandal, pdahal ayah sudah menyiapkan sandal untuk bermaindan sepatu untuk ke sekolah. Ketika itu ayah melihatku hanya sepintas, diam sambil berlalu, saat itu aku sadar ayah pasti marah. Maka segerahlah aku kembali ke rumah ketika para tamu sudah pulang, ayah lalu mendudukkanku dan berkata “Duduklah di atas kursi dan angkat kedua kakimu” ayah lalu memukulku dengan penggaris pendek, terus terang saat itu dalam hati aku tertawa, karena pukulannya sangat pelan dan tak berasa sama sekali. Dan itu emmbuatku sadar bahwa ayah hanya ingin mengerti bahwa aku telah melakukan kesalahan.

Diam adalah caranya marah, sederhana, namun membekas di hati. Tujuannya? Hanya ingin membuat kita sadar betapa ia cinta dalam marahnya sekalipun.

Ayah, ada banyak makna dalam diammu, semangat, tanggung jawab, kebanggaan, kecewa, amarah dan banyak lagi lainnya, namun apapun itu, pelatuknya selalu CINTA. Ayah meredam amarahnya karena cinta, ayah bangga dan hidupnya selalu bersemangat karena CINTA, ya cinta kepada kita, anak-anaknya… 


Ayah adalah ayah... 
di bawah ufuk dan cakrawala kehidupan yang natural dan terbentang luas, 
ayah adalah ayah..
pada bahunya yang melindungi, 
pada matanya yang mewanti-wanti.. 
pada suaranya yang memperjelas batas-batas..
pada batuknya yang menandai..
pada kata-katanya yang mudah..
ayah kita adalah ayah yang sebenar-benarnya ayah..
 -Ahmad Zairofi AM


Tulisan ini, special untuk ‘Ayah’ di seluruh dunia..
Terlepas ia masih sehat wal ‘afiat atau sudah wafat..

“Engkau telah memberikan seluruh hidupmu untuk kami, anakmu..
Tapi kami membaginya sangat sedikit,
Engkau mengorbankan seluruh dirimu untuk kami, anakmu..
Dan kami hanya member sedikit penghargaan untukmu,
Kami, anak-anakmu membebani pikiranmu sepanjang waktu,
Namun kami hanya sesekali menghadirkan engkau dalam kehidupan kami…”

“Dan Engkau, Ayah, tak pernah memberitahu bagaimana cara untuk hidup,
Engkau hidup dan dan membiarkan aku melihat bagaimana engkau melakukannya.”
-Clarence Budington Kelland


Dan Untuk yang Terkasih, Yang senantiasa ada tindak dan doa dalam diamnya..
Semoga Allah senantiasa melimpahkan cahaya di atas kuburmu, meneranginya setiap saat
Dan memupuk amal jariyah yang tlah kau tanam di duniamu.

Selamat Ulang Tahun Almarhum Ayahandaku, Ir.Yusran Gani.
(12 Mei 1961-12 Mei 2013)
Rindu kami kan selalu mengaung bersama doa-doa yang kami panjatkan.
-Anak-anakmu



Tuesday, April 30, 2013

Baitullah, Bukti Cinta Sejati :')


10.59 WITA , perlahan kunyalakan handphone ku yang sedari tadipagi ku-charge, dan beberapa menit kemudian, dengan sedikit tak percaya ku temukan ini...

"Assalamu ‘alaykum, sayang..
Alhamdulillah, sudah sampai di Madinah, nanti saya sampaikan salamta sama baginda Rosul"
(pesan via whatsapp)

Siapa yang gak bahagia coba... :’)

(pertama) – ada pesan WA masuk dengan ringtone –cinta sejati- nya BCL (Bunga Citra Lestari) yang berarti bahwa, pesan itu tidak lain dan tidak bukan dari cinta sejati-ku.. *jingkrakjingkrak
(kedua) – isi pesannya  ituloh, yaa ALLAH, ibu dan suami ku sudah tiba di madinah dengan selamat... :’) *nangisterharu
(ketiga) – baru nyadar kalo ternyata mereka sekarang di Madinah ! iyah bener-an di Madinah ! bukan mimpi lagi, ini kenyataan, bukan sekedar syiar lagi, tapi ini benar sudah di depan mata (TOLONG CUBIT SAYA, eh MEREKA #tega !) Subhanallah *nangisbombay

Foto
Tepat di depan masjid Quba Madinah,
lihat betapa mesra mereka berdua (ibu dan menantu kesayangan) #eh, betapa bahagia mereka..#salahfokus :')

Satu hal yang sangat kusyukuri, betapa bahagianya ibunda tercinta berhasil mewujudkan  impiannya untuk menginjakkan kaki  di tanah perjuangan para nabi dan negeri cahaya, tak lain dan tak bukan semua ini adalah hadiah besar dari Allah atas segala kesabaran dan ikhtiarnya, melalui perantara suamiku tercinta <3 . dan ini nih yang berhasil membuatku nangis bombay gak karuan sehari sebelum proses lamaran dan akad nikah, calon suamiku yang sekarang telah menjadi pendamping hidupku selamanya tak hanya sekedar mengutarakan niatnya, tetapi berhasil mewujudkannya. Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaahaillallah, Wallahu akbar ! :’)

Foto: Lagi tilawah smbl nunggu magrib di Raudah masjid nabawi, ada yg mau titip doa?
si Abang lagi tilawah tepat di atas karpet hijau, taman surga Raudah, dan di tempat ini pula-lah suamiku tercinta banyak-banyak berdoa untukku, untuknya dan anak-anak kami kelak agar menjadi keluarga Qur'ani :') 
Dan satu lagi yang juga patut kusyukuri, yakni tak sia-sia pengorbananku menginstalkan WA di bb suami sebelum berangkat umroh (penting gituu?) walau rintangan menghadang, keringat bercucuran, jantung berdegup kencang, karena di detik detik terakhir bb lowbet. walau demikian alhamdulillah tetap happy ending, kabar baiknya, WA  bergunaaa banget kan sayang, iyah kan iyah? *ngomong sama tembok >.<

Ok . Sudah cukup kepanjangan intermesonya,
Saking bahagianya, nyaris terlupakan tujuan utama tulisanku saat ini.

And, back to the point. *pasang wajah serius*

para pembaca cahaya-pertama ku, siapa sih yang gak kepengen menginjakkan kaki di negeri para Rasul dan negeri cahaya?

Masjidil Haram dengan segala pesonanya :')
Masjidil Haram tampak atas.. Subhanallah :')
Yap, negeri impan seluruh umat muslim di dunia. Bahkan negeri yang menjadi urutan teratas tempat yang sangat sangat sangat (pake banget banget banget) ingin aku kunjungi. even, mungkin tiap orang beda orientasinya, namun jujur, sesungguhnya jika kamu mengetahui. That’s an amazing place that must be visited one day. WAJIB :’)

Yang muslim pasti tahu Ka’bah kan?

Ka'bah, tempat perputaran energi spiritual umat muslim seluruh dunia :')

Allah telah memberikan wahyu kepada nabi Ibrahim dan nabi Ismail untuk membangun kembali Ka’bah sebagai Baitullah untuk menunjukkan ‘apresiasi’ rasa cinta-Nya kepada manusia. Begitu Maha Penyayangnya Allah kepada hamba-hambaNya yang mau berjihad, dan bersungguh-sungguh untuk mencapai puncak (peak performance) spiritualitas dalam penyucian diri, di tempat yang paling suci, Baitullah.
Sebab Allah tahu, bahwa ada diantara sekian banyak hamba-Nya yang begitu rindu padaNya, begitu rindu keridhaanNya, dan sangat mengharapkan perjumpaan denganNya.

Ka'bah Al-Musyarrafah :')
Ka’bah, tak ada tempat lain di bumi Allah yang memiliki energi spiritual seperti di Masjidil Haram :’) (yah, walaupun jujur, aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki disana, namun keinginan dan niat yang kuat membuatku banyak mencari tahu tentang tempat luar biasa ini, siapa sih yang gak mau kesana? *hopefully*) sebuah tempat dimana lautan manusia dengan kostum berwarna putih, membentuk konfigurasi perputaran energi pada sumbu spiritual yang bernama Ka’bah :’)
Arah perputaran yang berlawanan arah dengan jarum jam ini, membentuk gaya sentrifugal yang mengarahkan arah ibadah shalat bermiliar manusia bervibrasi dan fokus pada satu titik ‘spiritual’ di bumi Allah, Ka’bah Al-Musyarrafah :’)

Ka’bah layaknya tempat inaugurasi wisuda seorang muslim(at) yang telah menyempurnakan rukun islamnya, ka’bah juga merupakan tempat ujian kelayakan dan kepatutan, mm...bahasa canggihnya fit and proper test  sebagai sarana pembuktian ‘CINTA’ dan puncak pengabdian seseorang kepada Khaliknya. Sedangkan hijrah kita dari rumah menuju tempat suci ini adalah sebagai bentuk perwujudan cinta dan pengorbanan yang sebenarnya dari seorang hamba kepada Tuhannya. Sama aja, ketika kita mencintai pasangan kita (pasangan halal yah :p) , kita rela berkorban apaaa saja dan kapaaaaan saja, untuk mendatanginya dengan penuh rasa cinta dan antusias, bukan dengan keterpaksaan.

Dan bagaimana kita bisa menyatakan cinta sejati, jika untuk datang saja ke rumah kekasih kita, kita tak mau atau menunda-nunda terus? Apalagi, yang didatangi adalah Baitullah, tempat yang menjadi ‘Bukti Cinta’ Allah. Suatu tempat dimana doa-doa dikabulkan dan dosa-dosa diampuni oleh Allah :’) *menatap dalam-dalam diri sendiri* dan mostly dari kita (apalagi yang sudah bertitel ‘MAMPU’ sering berdalih menunda)

Yap ! TUNDALAH TERUS HINGGA AJAL TIBA! *tiba-tiba keselek*

“Barang siapa ingin berhaji, hendaknya menyegerakannya. Siapa tahu, seseorang akan menderita sakit, kehilangan kendaraan, ataupun timbul keperluan lain (yang dapat menghalanginya)”
-HR Ahmad Baihaqi

Astaghfirullah..
Gak kebayang jika suatu saat Malaikat Izrail (yang tak peduli apapun kondisi dan kebutuhan kita) pada saatnya tiba ‘on schedule’ dia kan mencabut nyawa kita? And what can we do ? nunggu pengumuman ‘Innalillahi wa Inna ilaihi Rooji’un” 

* tarik nafas dalam-dalam..*
Hmm..sebagai manusia biasa, dan pengingat (skalian alarm untuk diri sendiri), daripada kita menyesal nanti. Yuk, dari sekarang bantu diri kita untuk memprovokasi  niat-niat kita menuju Baitullah “Rumah Masa Depan” kita. Karena tak ada kata terlambat untuk berhaji/umroh. Kondisikan diri kita sedemikian seolah-olah inilah tahun terakhir hidup kita. Dengan begitu, mau gak mau kita akan terdorong untuk mewujudkan tekad kita berziarah ke negeri para nabi dan negeri cahaya. Yah, meskipun saat ini kita belum memiliki uang, tapi kita harus ‘YAKIN se YAKIN-YAKIN-nya’ kita bisa. Ke Roma aja ada banyak jalan apalagi ke Baitullah, bener gak?
Dan kita juga harus yakin, jika niat kita itu merupakan salah satu wasilah yang amat penting untuk menebus dosa yang selama ini sudah kita tumpuk selama masa akil baliq, atau anggap saja bahwa that’s ‘way’ yang sangat terbuka lebar bagi kita untuk masuk surga karena amal ibadah kita masih sedikit.

“Pergunakanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya, yaitu:  Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu senggangmu sebelum sibukmu, masa mudamu, sebelum masa tuamu, dan masa KAYAmu, sebelum masa MISKINmu”

Kurang ‘menohok’ apalagi coba?

Bumi Allah,
My lovely room, still waiting kabar ibu dan cintaku yang sedang asyik-asyiknya beribadah :’)
20.23 WITA
-nay-

-Blog Of Friendship-

Photobucket

Followers