Wednesday, February 26, 2014

Setahun Perjalanan Cinta..



“Berteman dengan cinta, rasanya lautpun tetiba menjadi manis, meliuk dinamis dan berbuah surga yang tak pernah habis”


(24 februari 2013)

Perjalanan rasa pun dimulai, entah dari mana asalnya, Allah kirimkan selangit doa yang berhasil mengguncang langit, kebahagiaan yang tiada terurai dan airmata penuh haru, mentari sahaja menyambut dengan tawa mesra menggelidik, padahal kemarin pagi, hujan menyambut hangat dengan deras nya, begitulah kuasa Allah menyambut ahsan prasangka hambaNya. Yang sedang dimabuk hawa cinta.

Pagi itu manis sekali…
Kau ucap janji suci dihadapan ratusan orang, malaikat dan penduduk langit menjadi saksi bisu. Dan aku disampingmu, sesekali melirik dan tersenyum manis sambil berucap lirih, assalamu ‘alaykum, suamiku.. :’)

“Bagi mereka yang mengupayakan cinta, hanya ada ilkim hangat dan iklim sejuk, meski ada goda aurora dan pelangi katulistiwa”
“Bagi mereka yang mengupayakan cinta, setiap musim membagi cindera mata, Kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, serasa hangat juga payung dan layang-layang”
“Bagi mereka yang mengupayakan cinta ditiap cuaca, cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat, hujan menanyi rezeki, badai mengeratkan peluk dan tiba-tiba, surge mengetuk pintu rumah.”
-ust. Salim A Fllah

Hari itu hanya bahagia yang menyeruak, pertarungan hati dikala cinta dinanti akhirnya terjawab sudah, kini aku disisimu, berbagi bahagia, berbagi suka, meyelami duka  dan kelak menggapai surgaNya bersama. 



(24 februari 2014)

Sepertiga malam menyambut kami, aku yang baru saja terbagun karena bunyi alarm yang begitu bersahabat perlahan membuka mata. Hanya ada gelap sepanjang penglihatan. Perlahan kugerakkan tubuhku kesisi kanan agar tak mengganggu janinku, dan mencoba bangun dari peraduan. Mencari saklar lampu yang letaknya tepat sisi atas tempat tidur ku. Kutekan perlahan, dan pada saat yang sama terang benderanglah seisi kamar. Kutatap lekat seisi ruangan dan kudapati wajah teduh itu di sampingku. Aku, tersenyum ‘pang-ling’ menatapnya, masih dengan senyum manis dalam tidurnya, kudekati wajah teduhnya, dan kudekatkan bibirku kejidatnya sambil membangunkannya. 

Selamat satu tahun sayang…”

Begitulah Allah menyatukan dua hati, bersama prasangka, aku  terus membatin, se-indah inikah kehidupan berumah tangga? Yang ada hanya cinta cinta dan CINTA.

Dan Seorang suami telah dikirimnya melalui untaian doa-doa yang mengalir disepanjang malam. Dan malam itu, kami bermesra padaNya, mengucap syukur yang tiada habisnya, sesekali airmata tak sanggup terbendung. 

Malam itu sebenarnya tak ada bedanya dengan malam –malam sebelumnya, ia selalu begitu. Selalu hangat dengan cinta. Tak pernah lupa disetiap salam 2 rakaat, berbalik ke arahku yang tepat disisi kanan belakangnya, merangkul dan meraih pipiku, dan menciuminya sambil berkata “Terima Kasih, sayang…”

Tak pernah bosan membagi cinta, sepertiga malam yang syahdu kami habiskan dalam pelukan Rabb kami. Terima kasih atas pernikahan ini…

Sehangat pagi setahun kemarin, kami berbagi cerita, sambil bernostalgia, perasaan masing-masing menyambut akad berkumandang. Doa tak henti, shalawat tak berujung bergantian menghias langit-langit mulut kami. Sambil tertwa sesekali, saling menimpali, mesra sekali… (ada yang cemburu? :p)
Entah berapa lama kami habiskan waktu bersama pagi itu, berdua saja bersama kicauan burung-burung yang sedari tadi berputar-putar mengitari pandangan kami.

Dan adalah kado terindah yang ia berikan pagi itu, kado kesekian, kado untukku dan untuk malaikat keciku diperut yang akan disambut hangat penuh cinta kehadirannya, cicilan muroja’ah hafalan 5 juz, diteras rumah. Lucunya, beberapa kali kami mencoba sambil merekamnya, tak pernah berhasil tersave dengan matang. Wallahu A’lam. Biar Allah dan para malaikatnya saja yang menjadi saksi :’)

Demikian aku mencintaimu dengan caraku, dan kamu mencintaiku dengan caramu, bersama barakah, cinta  akan menguatkan jalinan kita… 

Setahun sudah aku dan suami ku menjalani hidup penuh cinta, kata seorang padaku beberapa tahun silam, setahun pernikahan adalah masa ta’aruf kita dengan pasangan. Tak cukup bagiku hanya setahun, mengenal suamiku bukanlah perkara melewati masa, namun membersamai masa. Waktu hanyalah titian semata, ia terus bergerak hingga nanti ajal menjejang, dan surga menanti kami.

Setahun sudah aku duduk dan berdiri di sampingnya, merasakan bau surga yang ia tancapkan dipundaknya, mancari keberkahan rezeki bersama ikhtiarnya dan doa-doaku yang mendampingi, ia ajarkan banyak hal tentang kehidupan. Ya, aku kini perlahan berubah, berubah mengikuti  ritme hidup yang semakin berkah. Berkah karenaNYA dan karenanya.  

Setahun sudah masa pacaran kami, semakin sakinah mawaddah warohmah, jatuh bangun masalah semakin menguatkan jalinan, tak ada masalah bagiku (menurutku) begitupun menurutnya. Ia yang selalu mengajarkan untuk berucap lebih hati-hati, bertindak mawas diri sebagaimana Allah mengawasi. Ia mengajarkan berbagi tanpa kenal, siapa? Dimana? Kapan? Dan berapa banyak. Jujur, aku belum pernah menemui lelaki seperti dirinya sebelumnya, lelaki selangit dengan keistimewaan surga, yang Allah titipkan bertitel IMAM, bernama SYAFAAT.

Setahun sudah ia mengenalkanku pada dinamika hidup, tertawa, tersenyum, terharu bahkan tak sedikit airmata yang tertumpah. Tidak, tidak sama sekali karena bersedih, melainkan karena kebagiaan yang di pancarkannya disetiap waktu. Ia  ajarkan bagiamana hidup dengan segumpal rindu tak terbendung yang terikat doa disetiap celah langit yang menghias.

Setahun sudah doa-doa ku senantiasa melangit untuknya, tak kenal lelah ia pun tak henti mengajarkan keagungan rasa kepada siapa saja, tak ada benci tak ada iri tak ada maki tak ada caci, semua mengalir lembut. Yang ia tinggalkan hanyalah kebaikan tanpa batas, kedermawanan seluas samudra, dan cinta yang tak kenal lelah.

Setahun sudah bersama kami arungi bahtera kehidupan penuh arti, saling mengisi, saling melengkapi, saling memberi dan saling bertukar bahagia. Tak terhitung syukur, tak terbendung rindu, tak terbatas sayang melengkapi jejak langkah kami.

Dan setahun sudah, kukenang akad nikah bersamanya, saat cinta membenih dalam gemuruh debar hati dan bertumbuh untuk pertama kali.

“Tak habis cinta yang datang, semakin membuka mata, bahwa inilah cinta yang sesungguhnya yang Allah kabarkan kepada kita”

Masih di 24 februari 2014, kau katakan, hari ini hanya untukku, dan aku percaya sambil tersenyum melihat keromantisanmu. Dan hari itu bertepatan pula dengan milad adik cantik kita, ifa dan 33 minggu usia buah cinta kita didalam rahimku, bersama memanjatkan doa terindah, semoga Allah memberkahi. 

Tak lantas usai, kau ajak aku menginjakkan seribu langkah menikmati hari penuh cinta bersama, berdua. Seperti biasa kita menghabiskan banyak waktu di toko buku, melahap durian manis bersama segerombolan anak kecil yang ngidam durian, menemanimu rileksasi, menyantap mie naga super pedas yang kau inginkan sejak kemaren, bercerita lepas dan saling berfoto layaknya sepasang kekasih yang kembali dan kembali dimabuk asmara, dan hari itu kita tutup dengan  bersama menyambut bahagia kepulangaan jamaah umroh dibandara, dan kemudian menepi ke pinggir air terjun sambil saling mengucap kata cinta dan janji mesra ditemani secangkir ice milo yang baru saja kutukar dengan gope-an. Malam yang indah.

Kau tahu? Bahkan hari-hari sebelumnya juga tak kalah indahnya?
Tak kan habis tinta ini mengurainya satu persatu.
Lihatlah kami sejenak saja, dan rasakan kebahagiaan yang mengalir deras disetiap detak jantung.  Karena cinta kami, maka Allah ridho-i.

“Dan kini, lengkap sudah kebahagiaan kita, sayang… Allah titipkan hadiah terindah kado pernikahan pertama kita, malaikat kecil yang sebentar lagi akan hadir di dunia ini, jundi/ah yang kita rindukan, dan bersamamu, aku berakar, tumbuh dan mekar…”

Akhir Sejarah Cinta Kita

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita tidur saling memunggungi
Tapi jiwa berpeluk peluk
Senyum mendekap senyum

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Raga tak lagi saling membutuhkan
Hanya jiwa kita yang sudah lekat meyatu
Rindu mengelus rindu

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
Mengenang dan hanya itu
Yang kita punya

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir
Di saat tak ada akhir

-M. Anis Matta, Lc-

“Selamat satu tahun sayang…”


Barakallaahuu Laka, wa Baaraka ‘Alaika wa Jama’a Bainakumaa fii Khaiir…
Aku mencintaimu, Lillah, Fillah, Billah, Ma’Allah…
-nay syafaat-
24 februari 2014




There was an error in this gadget

-Blog Of Friendship-

Photobucket

Followers